Hai-haiii...
Kalian pasti sedang
mencari referensi buat tugas Bahasa Indonesia kan atau malahan mau 'copy
paste'? hehe, yah ketahuan yak wkwk.
Wel, disini aku mau
berbagi cerita karanganku sendiri lho..
Kalian boleh kok
nggunain cerpen aku buat menuhin kebutuhan (read:tugas) kalian, asal....
kalian menyertakan identitas penulisnya. Yah, ibaratnya buat ngehargain si
penulisnya lah, hehe.
Yaudah, langsung cuss aja yaaaaa...
Cinta Satu Sisi
Karya
: Lia Rosiana
Semilir angin malam menerpa setiap kulit manusia yang tak terlapiskan kain.
Membelai rambut, lembut. Menggelitik di sela-sela kuping. Rembulan bersinar
dengan cantiknya. Ribuan bintang di angkasa pun turut hadir menemani sang dewi
malam. Menambah keindahan langit malam ini. Lalu-lalang manusia di jalanan.
Malam ini adalah malam minggu.
Malam dimana hampir seluruh manusia keluar sekedar jalan-jalan, melupakan
sesaat kesibukan yang ada. Malam yang paling dinanti-nanti oleh pasangan
muda-mudi yang sedang kasmaran. Dan malam yang paling menyedihkan bagi para
jomblo –sebutan untuk mereka yang tidak mempunyai pasangan–. Kebiasaan mereka,
para jomblo, adalah berdoa agar malam ini segera berakhir dan berharap hujan
turun dengan derasnya. Agar tidak ada yang bisa berdua-duan, yah kebiasaan yang
buruk –sirik.
Taman, tempat yang sering dituju saat malam minggu. Yap, tempat yang sejuk,
aman serta nyaman.
“Iiih, Iqbaal! Siniin gak.” Teriakku pada pria yang duduk disampingku.
“Ambil aja kalau bisa, wlee.” Sambil menjulurkan lidahnya, Iqbaal terus
menjauhkan es krimku dari jangkauan tanganku.
“Awas aja kalau sampai aku dapatin tuh es krim.” Dengan muka yang sok garang
dan mengancam Iqbaal.
Tiba-tiba saja Iqbaal
dengan sengaja mencolekkan krim dari es krim itu ke hidungku. Aku sedikit
terperanjat dengan apa yang Iqbaal lakukan padaku dan aku segera mengejar
Iqbaal yang entah dari kapan sudah berlari mendahuluiku untuk menghindari
amukan serta amarahku. Aku terus berlari mengejar Iqbaal yang terus berputar
ditempat yang sama. Karena keadaan taman yang remang-remang dengan sedikit
pencahayaan, tak sengaja aku menabrak salah satu kaki dari kursi yang tadi aku
duduki bersama Iqbaal.
“Aduhhh...” Aku mengaduh
kesakitan dan jatuh terduduk. Iqbaal yang jauh beberapa meter di depanku,
sontak berlari menghampiriku. Dan membantuku untuk berdiri lalu mendudukanku di
kursi tadi.
“Mana yang sakit?” Tanya
Iqbaal khawatir padaku. Melihat raut wajah Iqbaal yang sepertinya begitu
khawatir padaku, timbullah ide jahilku untuk mengerjainya. Aku menunjukkan
bagian kakiku yang sebenarnya tidak begitu sakit. Iqbaal segera memijit pelan
kakiku yang barusan aku tunjukan padanya.
“Tukk.. Aww.”
Iseng, aku menjitak kepala Iqbaal cukup keras.
“Sakit, Bego!” Seru Iqbaal
padaku. Tangan kirinya terus mengelus bagian kepalanya yang tadi aku jitak dan
tangan kanannya mencoba untuk membalas perlakuanku tadi. Aku berniat untuk
berlari menghindari Iqbaal namun sepertinya kakiku tidak mau membantuku untuk
lari. Yang akibatnya aku kembali terjerembab dan terduduk di samping Iqbaal.
Iqbaal kembali khawatir dan berkata, “Makanya gak usah jahil sama aku,
kualatkan!.”
“Iya-iyaa. Kamu juga jangan
nakal jadi aku gak bakalan terluka kayak gini.” Omelku pada Iqbaal .
“Yaudah, pulang aja yuk!
Daripada ntar kaki kamu tambah sakit.” Ajak Iqbaal yang aku balas dengan
anggukkan kepalaku.
“Buru naik.” Perintah
Iqbaal sambil jongkok memunggungi aku, yang dimaksudnya mungkin, sini
biar aku gendong. Aku tidak langsung menuruti perintah yang seperti
permintaan itu.
Merasa tak ada yang menaiki
punggungnya, Iqbaal berbalik badan, menarik kedua tanganku dan segera
menggendong tubuhku tanpa adanya persetujuan dariku. Iqbaal pun berjalan keluar
dari taman dan mulai memasuki gang rumahku yang cukup dekat dengan taman itu.
Selama perjalanan pulang
aku hanya mampu terdiam di gendongan Iqbaal. Menikmati saat-saat yang mungkin
saja tidak akan pernah terulang lagi. Beginilah kira-kira malam mingguku selama
kurang lebih satu setengah tahun belakangan ini, sejak aku dan Iqbaal mulai
menjalin hubungan ‘persahabatan’. Yang bermula dengan pertemuan yang sangat
tidak di sengaja.
Sedikit bercerita tentang
bagaimana aku dan Iqbaal bertemu, awalnya saat aku berada di kelas XI SMA Tunas
Bangsa. Saat itu aku sedang berjalan di tepian lapangan bola voli, yah Iqbaal
memang jago sekali kalau tentang yang satu ini –voli. Tak sengaja bola yang di passingnya keluar
lapangan dan tepat mengenai kepalaku. Pening, penglihatan agak kabur dan
tiba-tiba semuanya gelap. Aku pingsan. Setelah sadar, aku mengedarkan
pandanganku dan berhenti tepat pada seorang lelaki yang duduk di samping
ranjangku. Mengetahui bahwa aku telah sadar, lelaki itu segera berdiri dan
meminta maaf atas kejadian tadi di lapangan voli. Dari situlah aku tahu nama
pria itu, Iqbaal.
Dari kejadian tersebut aku
dan Iqbaal jadi lebih akrab. Ditambah lagi saat ini kami berada di kelas yang
sama, XII A3.
Dan selama beberapa bulan
terakhir ini, sepertinya ada yang aneh dengan diriku. Aku jadi lebih sering
memperhatikan Iqbaal diam-diam saat di kelas. Dan seperti ada perasaan takut
kehilanan dirinya. Sikapku pun menjadi sangat berlebihan padanya.
Aku terus berpikir dalam
gendongan Iqbaal, “Adakah yang salah dengan diriku?”. Tanyaku dalam hati.
Iqbaal pun hanya mampu terdiam selama perjalanan pulang.
Tak berapa lama kami sudah
sampai di depan pintu rumahku. Aku turun dari gendongannya dan tersenyum.
“Terimakasih ya, Baal. Maaf
udah ngerepotin kamu terus.” Yang dibalas senyum dan anggukan Iqbaal.
“Mau mampir dulu gak?”.
Tawarku pada Iqbaal, siapa tahu dia mau mampir.
“Nggak usah, udah malem
juga ntar dikira ngapain, hehe. Aku langsung aja balik ke rumah ya? Selamat
Malem.” Iqbaal melambaikan tanganya dan terus tersenyum padaku.
Lama ku perhatikan Iqbaal
sampai ia lenyap di balik gerbang rumahku. Aku segera masuk ke rumah karena
udara malam sangat menusuk kulitku.
Di tempat tidur, aku terus
memikirkan tentang Iqbaal. Apa yang sedang dilakukannya? Sudah makan atau
belum? Atau dia sudah tidur pulas?. Duhh, mikir apa sih aku ini.
Jam menunjukkan pukul 9.30
malam, namun aku masih terus melamun memikirkan lelaki tadi. Getaran ponsel di
meja belajar berhasil membuyarkan lamunanku. Dengan malas aku mengambil ponsel
sambil menggerutu, ‘siapa sih ngeganggu malem-malem’. Saat ku lihat di layar
ponsel tertera ada satu pesan dari Iqbaal. Iqbaal?.
Buru-buru ku baca pesannya.
Yang isinya adalah...
Dari : Iqbaal
‘Cewee. Lagi ngapain nih?
Jangan bilang lagi mikirin aku :D’
Perlahan bibirku mengembang
membentuk setengah lingkaran dan menghasilkan sebuah senyum manis. Sambil terus
tersenyum aku membalas pesannya.
Untuk : Iqbaal
‘Cowoo. Lagi persiapan mau
tidur nih. Ada apa? Tumben banget kamu ngehubungin jam aku jam segini.’
Terkirim.
Sambil terus tersenyum
menunggu balasan dari Iqbaal, imajinasiku terus berkembang padanya. Kok dia
bisa tahu kalau aku sedang memikirkannya ya?.
Tak perlu menunggu lama,
Iqbaal pun mengirim pesan lagi.
‘Langsung ke intinya aja
ya. Menurut kamu Bella tuh gimana? Cocok gak sama aku?’
Senyum yang sedari tadi
mengembang perlahan luntur. Kecewa. Sebenarnya aku sudah menduga bahwa Iqbaal
ada rasa sama Bella, cewek cantik dan kaya itu siapa yang tidak tertarik
padanya?. Tapi kenapa harus Iqbaal juga menyukai dirinya?.
Dengan menahan sesak di
dada dan perasaan yang bercampur aduk antara sedih, kecewa, sakit perlahan aku
mengetik balasan untuknya.
‘Ciyee, lo suka ya sama
Bella. Menurut gue sih Bella cantik, manis. Dan yah lo cocok-cocok aja tuh sama
dia.’ Balasku yang sok ceria.
Namun sepertinya Iqbaal
menyadari adanya perubahan kosa-kata yang aku gunakan.
‘Lo kenapa sih? Gak apa-apa
kan? Atau jangan-jangan lo cemburu? Hayolohh ngaku gak lo!’. Oke sifat iseng
bin jahil mulai muncul. Tapi tetap saja Iqbaal yang terbaik deh. Seperti saat
aku belum mudeng tentang pelajaran di sekolah, dia rela mengajari aku sampai
aku benar-benar paham dan dia juga mau mengerjakan tugasku saat aku ketiduran.
‘Mungkin aja iya, gue
cemburu. Haha.’
Tak lama Iqbaal pun
membalas lagi.
‘Ooh jadi lo suka sama gue
nih ceritanya? Tenang aja gue gak bakalan milih salah satu dari kalian kok. Aku
bukan orang yang pemilih. Kalo saat ini mungkin aku nggak akan pacaran dulu.
Kita tunggu aja abis UN.’
Apakah Iqbaal serius dengan
omongannya? Apakah Iqbaal tidak apa-apa kalau aku menyukainya?. Baiklah baal,
aku akan menunggumu sampai UN selesai. Aku akan setia, akan ada untukmu setiap
saat.
Sedikit demi sedikit rasa
kantuk menyerangku, aku pun terlelap dalam malam yang sunyi.
Keesokan harinya, aku dan
Iqbaal kembali menjalani aktivitas seperti biasanya seolah-olah tak pernah ada
yang terjadi.
Detik berganti menit. Menit
berganti jam. Jam berganti hari. 3 bulan menjelang UN –Ujian Nasioanal, ujian
yang diperuntukan kelas XII. Kedekatan Iqbaal dan Bella semakin menjadi. Kemarin
aku melihat mereka jalan berdua saat pulang sekolah. Mungkin saja hanya
kebetulan bertemu lalu Iqbaal mengajak Bella untuk pulang bersama. Tapi
sepertinya bukan sekedar kebetulan belaka. Hari ini aku mendengar berita bahwa
Iqbaal dan Bella sudah menjalin hubungan ‘pacaran’. Dan aku berniat menanyakan
saat sekolah telah dibubarkan.
Begitu bel pulang sekolah
berbunyi, aku segera menghampiri Iqbaal. Tapi baru satu langkah, Bella sudah
lebih dahulu menggandeng tangan Iqbaal dan bergelayut manja di lengan Iqbaal.
Pertanyaan yang memenuhi pikiranku sejak tadi pagi terjawab sudah tanpa diberi
tahu sekalipun. Niatku untuk bertanya pada Iqbaal pun aku urungkan.
Aku terus berjalan dengan
menunduk. Terlalu sakit jika aku melihat Iqbaal bersama dengan cewek
lain. Dan saat aku melewati kedua insan itu, yah terpaksa aku melewati mereka
karena itu adalah satu-satunya jalan menuju gerbang sekolah. Aku sempat
mendengar percakapan Iqbaal dengan Bella.
“Bel, bentar dulu ya.” Ucap
Iqbaal seraya melepaskan tangan Bella.
“Kamu mau ngapain sih? Mau
ngejar cewe jelek tadi? Hahaha.” Balas Bella sarkastis padaku.
“Iya bentar aja, aku mau
ngejelasin sama dia tentang hubungan kita.”
“Ngapain sih harus laporan
sama dia. Emangnya dia siapa kamu? Ibu? Bukan kan. Udah deh yuk katanya mau
anterin aku ke Mall.”
Merekapun berjalan menjauh
menuju parkiran belakang sekolah.
Sesak di dadaku aku luapkan
dengan tangisan saat aku sudah sampai di kamarku. Aku tenggelamkan wajahku ke
bantal. Tak aku hiraukan basahnya bantal akibat air mataku. Aku terus menangis
sampai mataku benar-benar sembab dan sesenggukan.
‘Baal, kenapa kamu tega
nyakitin aku? Katanya kamu bukan orang yang pemilih, nyatanya apa? Kamu lebih
memilih cewe itu. Aku udah rela nunggu kamu bisa ngebuka hati kamu untukku,
tapi apaaa? Apaaa?!!.’
Kesetiaanku kamu balas
dengan ini? Dengan kamu berpacaran dengan Bella?.
Setelah puas menangis aku
pun terlelap tidur.
Tak terasa sudah satu
minggu sejak Iqbaal dan Bella jadian, Iqbaal semakin hari semakin tidak ada
kabar dan saat di kelas pun dia selalu menyendiri.
Hari demi hari aku lalui.
Ujian Nasional semakin mendekat. Entahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan
pria itu.
Setiap kali aku berpapasan
dengan Iqbaal aku hanya mampu tersenyum padanya dan sekedar memanggil namanya.
Dia pun sebaliknya. Sepertinya hubungan persahabatan kami kandas begitu saja,
hilang ditelan bumi.
Setelah UN selesai dan
pengumuman kelulusan telah dilaksanakan, akhirnya aku bebas dari masa-masa
pahitku di ujung SMA. Aku akan memulai awal yang baru saat aku di Perguruan
Tinggi nanti.
Sampai jumpa Iqbaal. Sampai
bertemu lagi. Semoga takdir mempertemukan kita kembali saat kita sudah
mempunyai pendamping hidup masing-masing.
Yap, itu dia cerpen
karanganku. Temanya adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Nggak keliatan
kayak lagi curhat kan? hehe.
Oke terimakasih sudah
mau membaca karya acak adul punyaku ini.
Semoga dapat bermanfaat
untuk kalian.